MAKNA SIMBOLIK GERAKAN DALAM TARI JAPIN ANAK DELAPAN
Keywords:
Semiotika, Makna Simbolik, Tari JapinAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk gerak serta menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam Tari Japin Anak Delapan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, serta didukung oleh pendekatan etnokoreologi dan semiotika Ferdinand de Saussure. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap gerakan dalam Tari Japin Anak Delapan memiliki makna simbolik yang tidak terlepas dari nilai-nilai budaya masyarakat Banjar. Dalam kajian semiotika, gerakan tari berfungsi sebagai penanda (signifier), sedangkan makna yang terkandung di dalamnya sebagai petanda (signified). Hubungan antara keduanya bersifat konvensional dan dipengaruhi oleh konteks budaya setempat. Makna yang terkandung dalam gerakan tari meliputi nilai sopan santun, kebersamaan, religiusitas, keberanian, serta hubungan manusia dengan alam. Tari Japin Anak Delapan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menyampaikan pesan-pesan simbolik kepada masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya lokal serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap makna simbolik dalam seni tari tradisional.
References
Aziz, A., Ardiandhini, A. D., Puspitasari, I., Bonar, E., & Hutapea, T. (2026). Analisis Semiotika Charles Morris terhadap Pemaknaan Warna Brave Pink dan Hero Green pada Foto Profil Media Sosial dalam Prahara Agustus 2025. 5(2), 1258–1271.
Hasan, H. (2016). Islam dan Budaya Banjar di Kalimantan Selatan. Ittihad, 14(25).
Karangan, B. B.-K. (1997). Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru, 1986. Kobong Theodorus, Injil Dan Tongkonan, BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Keguruan, I. F., Pendidikan, I., & Tanjungpura, U. (2022). Struktur Penyajian Tari Jepin Rotan Pontianak. 08(May).
Miles, M. B. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook. Thousand Oaks.
Moleong, L. J. (2020). A. Pendekatan dan Jenis Penelitian. Pelaksanaan Reforma Agraria Di Desa Sumberdanti Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember (Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria Dan Perpres No. 86 Tahun 2018 Tentang Reforma Agraria).
Penelitian, A., Sawitri, S., Nim, F., Melawi, K., & Barat, K. (2017). Makna gerak tari jepin melayu sayan di dusun muara comat kecamatan sayan jaya.
Ratna, N. K. (2010). Metodologi penelitian kajian budaya dan ilmu sosial humaniora pada umumnya.
Santosa, D. H., Haryono, T., & Soedarsono, R. M. (2013). Seni dolalak purworejo jawa tengah: peran perempuan dan pengaruh islam dalam seni pertunjukan. Jurnal Kawistara, 3(3), 227–241.
Soedarsono (Raden Mas, A. history). (1999). Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudiartawan, I. W., & Sutama, I. W. (2022). Komunikasi Budaya Dalam Tradisi Ngelowong Masyarakat Sasak Wetu Telu Di Lombok. Samvada: Jurnal Riset Komunikasi, Media, Dan Public Relations, 1(2), 75–86.
Sumaryono, E. S. (2006). Tari Tontonan. Jakarta: Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.
Yuliani, W. (2018). Metode penelitian deskriptif kualitatif dalam perspektif bimbingan dan konseling. QUANTA: Kajian Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan, 2(2), 83–91.

