MAKNA SIMBOLIK KELAMBU KUNING DALAM TRADISI KEMBARAN HILANG PADA MASYARAKAT BUGIS

Authors

  • Sintia Ramadhani STIKIP Paris Barantai Kotabaru

Keywords:

Bugis, kembaran hilang, kelambu kuning, semiotika, simbolik

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik kelambu kuning dalam tradisi kembaran hilang dengan menggunakan pendekatan semiotika. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis budaya, melalui pengamatan terhadap praktik tradisi serta penafsiran simbol-simbol yang digunakan untuk mengkaji makna simbol kelambu kuning dalam tradisi kembaran hilang pada masyarakat bugis. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, sumber utama penelitian diperoleh dari berbagai literatur yang relevan, seperti berupa teori, jurnal ilmiah, pengamatan terhadap praktik tradisi serta penafsiran simbol-simbol yang digunakan serta wawancara mendalam dilakukan dengan narasumber yang memahami tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol yang terdapat dalam kelambu kuning tradisi kembaran hilang ada 4, diantaranya: Kelambu Kuning melambangkan sebagai pelindung dari segala bahaya yang datang, dipercaya bahwa hal buruk yang datang dari luar tidak akan masuk. Tempat Tidur dipercaya keberuntungan akan datang setelah kita bangun dari tidur. Bantal dan Guling memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan dunia gaib. Air Putih menjaga keseimbangan spiritual. Oleh karena itu tradisi kembaran hilang mencerminkan pandangan hidup masyarakat bugis yang menekankan keseimbangan antara aspek material dan spiritual dalam kehidupan. Dengan Demikian, tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga merepresentasikan sistem makna yang penting dalam memahami identitas dan kearifan lokal masyarakat Bugis.

References

Amerika, E. (1968). ROLAND BARTHES ELEMENTS OF SEMIOTOLOGY. 1–135.

Barthes, R. (n.d.). Interpretasi Makna Lagu Bugis “ Alosi Ripolo Dua ”: Analisis Semiotika Roland Barthes. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(2), 185–195.

Barthes, R. (2012). Semiotika. 332–343.

Barthes, R. (2021). Makna Simbolis dalam Nyanyian Tradisional Ritual Mangade Masyarakat Bugis Mallawa Maros : Kajian Semiotika. Of Pedagogical and Social Sciences, 1(1), 193–205.

Linguistik, C. (2023). Simbol Nonverbal Pada Tradisi Makan Dalam Kelambu Masyarakat Bugis Desa Punggur Kapuas Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya ( Pendekatan Semiotik ). 6(2), 79–85.

Mada, U. G., Sosio, J. L., Bulaksumur, H., & Depok, K. (2019). LATOA: ANTROPOLOGI POLITIK ORANG BUGIS KARYA MATTUALADA"SEBUAH TAFSIR EPISTEMOLOGIS". 5(1), 1–16.

Nasruddin A, M. (2023). INTERPRESTASI AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM PELANGGENGAN RITUAL TRADISI MA’BACA-BACA DI KALANGAN GENERASI MILENIAL SUKU BUGIS (pp. 1–52).

Sudirana, I. W. (2019). Tradisi Versus Modern : Diskursus Pemahaman Istilah Tradisi dan Modern di Indonesia. Jurnal Seni Budaya, 34(1), 127–135.

Sungai, K., Kabupaten, K., & Raya, K. (2023). Analisis simbol nonverbal pada tradisi makan dalam kelambu masyarakat bugis desa punggur kapuas kecamatan sungai kakap kabupaten kubu raya (pendekatan semiotik). Jurnal Inovasi Pendidikan Dan Pengajaran, 2(1), 51–58.

Yogyakarta, U. T. (2012). RELIGIUSITAS DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT BUGIS-MAKASSAR. 397–418.

Downloads

Published

2026-04-13

How to Cite

Sintia Ramadhani. (2026). MAKNA SIMBOLIK KELAMBU KUNING DALAM TRADISI KEMBARAN HILANG PADA MASYARAKAT BUGIS . Jurnal Sosial Humaniora, 2(1), 189–196. Retrieved from https://ypmsc.org/index.php/jshu/article/view/126